|
|
|
|
|
| |
|
|
|
| |
|
|
|
| |
|
|
|
| |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Tak hanya ada juadah, tapi juga ada begitu banyak kisah dan sejarah.
|
|
|
|
|
|
Anda mungkin sudah mengenal baik resto ini. Bahkan mungkin sudah mengunjunginya tiga kali atau lebih, dan saya menyaksikan sendiri bahwa dalam tempo kurang dari sebulan resto ini sudah berhasil membuat dirinya full booked. Namanya sederhana saja : Dapur Babah. Terletak di sebuah ruas jalan di pusat Jakarta, yang bagi orang tua serta kakek nenek Anda pastinya memiliki kenangan tersendiri, terutama dengan keberadaan sebuah kedai es krim rumahan yang masih berdiri hingga kini.
Di suatu sore, sampailah saya di hadapannya. Bergegas memasukinya, saya disambut oleh sebuah ruang yang di sekujurnya penuh dengan pernak-pernik yang memang tampak antik: toples-toples kaca dengan tutup aluminium bergrafir; beberapa foto hitam putih, serta sejumlah teko serta perangkat minum teh yang begitu beragam. Ujung ruang ini, dibatasi oleh sebuah gapura dari kayu yang diatasnya terdapat dua patung singa khas Cina yang saling berhadapan, menaungi awal dari sebuah ruang yang bernama VOC Room. Entah kenapa namanya demikian, sementara saya merasa ruangan ini seperti ruang keluarga rumah zaman bahuela dengan hadirnya foto-foto keluarga hitam putih yang tergantung di atas sebuah meja hakim.
Keluar dari ruang VOC, tiba-tiba saja pandangan saya tertarik ke arah atas, dan…trgantung tiga helai kimono kuno yang teramat cantik dengan bordirnya. Lebih tampak sebagai mahakarya seorang desainer ternama daripada pakaian antik yang tak bisa di cuci lagi, they really took my breath away. Di bawah kimono-kimono tersebut, terdapat sebuah |
|
private room yang diberi nama Kwan Yim Room. Dengan sebuah patung dewi Kwan Im berukuran besar di depan ruangan yang dibelakangnya terdapat hio-hio menyala, ruang ini membuat saya merasa sedang berada di sebuah biara tua yang para penghuninya tak melakukan apapun kecuali berdoa.
Dari ruang Kwan Yim, saya lalu tiba di sebuah ruang bertajuk Angela Room . Diruang ini, ada sesuatu yang membuat saya tertegun cukup lama: foto seorang selir berwajah eksotik bernama Angela, ‘milik' seorang saudagar gula kaya asal Semarang yang bernama Oei Tiong Ham yang amat ternama pada akhir abad ke-19. Lewat rautnya yang menatap sendu, saya pun mengira-ngira, pastilah ia punya begitu banyak kisah dalam kehidupan cintanya bersama sang saudagar.
Sambil masih terus membayangkan “kisah” Angela, saya menuju ke teras luar di mana hadir sebuah area yang ternyata bernama Dapur Babah. Dibuat dengan inspirasi dari dapur keluarga Oei lengkap dengan meja makan kayu nan kokoh, rak kayu menjulang yang dipenuhi berbagai pernik antik; tea set , rantang, bahkan cetakan kue satu; serta yang paling penting, keberadaan patung dewa dapur yang membuat saya mengerti, pantaslah para juru masak keluarga Oei senantiasa terlindungi inspirasinya untuk menciptakan resep-resep lezat yang bertahan hingga kini. |
|
| |
|
|
Masuk kembali ke dalam, saya pun mengunjungi satu lagi area penting dari resto ini yaitu Tao Bar . Dominasi warna merah dan hijau serta hadirnya berbagai artefak etnik dan antik, membuat ruang ini tampil eksotis. Dari bar , akhirnya saya pun duduk di sebuah meja di depan Kwan Yim Room , ditemani oleh Ibu Wedya Julianti yang bersama sang suami, adalah pemilik dari Dapur Babah. Seraya mencicipi Nasi Goreng Bang Samin (Rp. 45.000), saya pun mendengarkan kisah Ibu Wedya tentang awal berdirinya resto ini.
Alkisah, suami dari Ibu Wedya yaitu Bapak Anhar Setjadibrata, memiliki passion yang sangat besar terhadap kelestarian peninggalan bersejarah Indonesia . Dan salah satu buktinya adalah resto ini, yang dirancangnya sendiri, bahkan semua benda-benda antik yang berada di dalamnya pun merupakan hasil dari jerih payahnya. Lewat Dapur Babah, mereka ingin menunjukkan bahwa Indonesia memiliki komunitas babah (keturunan dari pribumi yang menikah dengan orang asing) yang demikian besar, yang memberikan kontribusi tak sedikit bagi kekayaan budaya bangsa. |
|
|
|
.jpg) |
|
| |
| Dan salah satu aspeknya adalah berbagai jenis hidangan yang diolah oleh para juru masak hebat yang melahirkan begitu banyak macam hidangan persilangan budaya, yang sepatunya dijaga agar tak sampai tandas termakan masa. |
|
| |
Usai percakapan kami, saya masih duduk di tempat yang sama dan menikmati hidangan kedua, Cwiemie Malang (Rp. 40.000) yang sambal homemade nya sulit membuat saya berhenti. Sedangkan hidangan penutup malam itu, Bubur Soemsoem Pandan dengan kelapa moeda (Rp. 25.000) dengan legitnya gula merah serta bubur sumsum lembut, membuat saya tiba-tiba ingin berkunjung ke tanah Jawa Tengah dan bernostalgia, entah dengan siapa atau tentang apa. Tapi sedetik kemudian saya tersadar, melihat sekeliling, dan merasa tak perlu pergi ke mana pun. Karena setiap sudut Dapur Babah yang bercerita dan berkisah, telah mewujudkan sebuah nostalgia tersendiri, yang sebelumnya tak pernah saya miliki. |
|
| |
| |
| |
|
| |
|
|
|
| |
|
|
|
| |
|
|
|
|
| |
|
|
|