About Us | Contact | Home 
       
       
       
       
       

STIRRING UP THE PAST

     

Dapur Babah's obsession with the bygone flavors of Java has spiced up Jakarta 's dining scene

     
       
 

Bila sebuah resto hadir dengan menawarkan lokasi prima serta dengan sajian menu khas, itu hal biasa. Namun, bila ada resto yang menunya merupakan masakan yang dipengaruhi oleh culinary Eropa, China, Belanda dan Indonesia yang ditunjang dengan keselarasan desain interior nuansa masyarakat peranakan masa lalu yang sarat misteri oriental, itu baru disebut unik. Dapur Babah sebutan untuk sebuah resto baru yang berlokasi di pusat kota hadir meramaikan jajaran resto papan atas ibukota.

MELESTARIKAN TRADISI DAN BUDAYA Menelisik namanya "Babah", perlu perenungan sejenak untuk kembali mengingat makna pilihan kata dari pemiliknya, Anhar Setjadibrata pebisnis sukses di bidang perhotelan yang memiliki banyak kepekaan di dalam “mendekorasi“ seluruh hotel miliknya. Keberhasilan dalam mengelola hotel hotel butiknya itu memicu imaji Anhar untuk berkarya di bidang lain - resto - yang tak bisa dijauhkan dari usaha terdahulunya. Khususnya, bagaimana upaya keras Anhar untuk terus melestarikan tradisi den budaya masyarakat tertentu. Dan, kali ini melalui restonya, sang pengusaha yang “seniman“ dan banyak memiliki mimpi indah itu mencoba menawarkan sebuah resto yang bernuansa Babah peranakan tanah Jawa di zaman kolonial. Sebuah resto yang mampu memberikan terapi, oase, sera kesejukan dari “kegelisahan masyarakat ibukota".

Kehadiran patung antik - Babah - dari kayu utuh di tengah-tengah "gapura kuil" merupakan elemen deko yang menjadi fokus utama pada ruang.
 
   
Sosok patung yang cukup besar dan berat dari kayu utuh itu - patung Babah – menjadi tengara ketika berada di area yang difungsikan sebagai bar yang mistis. Dan sebutan kata babah itu sendiri awalnya berasal dari daerah Tamilnadu, India. Dalam bahasa Hindi, Urdu, istilah Baba berarti ayah, kakek atau sosok yang dituakan/berwibawa dan mempunyai pengaruh, semisal guru agama. Dalam perkembangannya istilah ini semakin meluas di dalam masyarakat untuk sebutan yang sifatnya penghormatan. Istilah ini kemudian dibawa ke Malaya oleh para saudagar dari Gujarat menyebar ke Hindia Belanda. Pada akhirnya kata ini semakin memasyarakat untuk menyebut para lelaki Tionghoa peranakan. Lalu sejauh mana isi di dalam resto Dapur Babah ini?
       

Untuk menuju lokasi Dapur Babah itu sendiri, terlebih dahulu harus melewati beberapa area yang masing-masing memiliki nama khusus dengan tema yang diangkat. Seluruhnya memperlihatkan pesona serta penuh fantasi. Kedai teh dan kopi Kawisari - dengan ragam aroma dan rasa yang diracik sendiri – dengan segala perlengkapannya dan aneka kue-kue Babah tempo dulu dalam bentuk dan rasa yang khas, area VOC untuk ruang makan The Hall of Guan Yin/Kuan Im, untuk Privat Dining . Hapliong Tailor dan ruang selir Oei Tiong Ham. Dapur Babah sendiri berada pada lokasi paling belakang menghadap kebun. Sirkulasi udara Yang segar serta posisi area yang langsung ke area kebun memberikan suasana yang benar-benarrelaks. Seluruh tamu seakan dibawa ke suasana dapur zaman dulu, dapurnya para pramuwisma ( bediende ) babah dengan patung dewa nenek moyang para juru masak yang dahulunya dipercaya dapat memberikan berkah kepada para juru masak, sehingga dapat menghasilkan makanan yang lezat dan penuh rezeki. Hangatnya teh dan kopi Kawisari dengan aroma wangi khas dipadu dengan keragaman makanan yang juga khas - baik traditional maupun modern dari paduan beragam daerah/negara, seperti Jawa, oriental, ataupun Barat – dari koki terpilih mampu melepas seluruh kepenatan.

Warna tak bisa dipisahkan dario gaya hidup. Setiap warna membawa “misi“ untuk memancarkan suasana yang diinginkan. Seperti warna merah yang diangkat untuk nuansa interior Dapur Babah ini. Merah untuk masyarakat Cina merupakan warna yang menyimbolkan keberuntungan, selain juga kehangatan perasaan. Untuk tulah di dalam menyambut Tahun Baru Imlek tahun ini, pemilik resto yang juga pemilik Hotel Tugu di Bali, Malang dan Blitar, Anhar beserta tim kerjanya menyiapkan sebuah acara khusus menjamu para tamu yang digelar di area Dapur Babah ini.

ART DECO - Kursi-kursi dan meja bergaya art deco seluruhnya bernuansa merah, di atas meja-meja itu pun ditata pula beberapa cangkir beserta tea/coffee pot-nya untuk menciptakan suasana yang berbeda di sebuah “dapur”.

 
Salah satu sudut ruang Dapur Babah dengan tungku-tungku yang khas dan sarat dengan koleksi keramik-keramik antik serta poster yang terdisplay indah.
       
 

Dalam duduk santai, selain alunan musik pilihan, pandangan mata takkan pernah lepas dari kekaguman kita bagaimana Anhar mendisplai koleksi keramik-keramik antiknya - seperti tea set, mangkok dan guci-guci – di dalam lemari dan rak yang menempel di dinding.

Komposisi penataannya sangat artistik. Perhatikan pula pada sudut lain yang dipenuhi dengan beberapa "koleksi" perangkat dapur seperti tenong dan wajan. Koleksi ini dipadukan pula dengan benda-benda lain, seperti koper-koper tua dan lampion-lampion kuno bermotif penjaga-penjaga surga.

   
Pepohonan palem berjejer menghijaukan area. Suasana oriental terlukis pula melalui kerlipnya lampu-lampu hias.
Detail salah satu sudut area duduk untuk tea time. Hangat dan romantis dengan kursi dan meja-meja gaya art deco .
       

”Yah suasana ini diciptakan benar-benar seakan berada di sebuah dapur milik bediende (pramuwisma) babah-babah yang "penuh" dengan berbagai barang yang seharusnya tidak dipakai lagi. Istilahnya nyusuh, cerita Anhar berfantasi”.

Seluruh elemen yang ditata di area ini begitu saling menunjang dan harmonis. Suasana romantis pun menebar ruangan ketika lilin-lilin bernuansa merah di atas atas meja mulai dinyalakan.

       

 

 

Dapur Babah élite
Jl Veteran I / 18, Jakarta Pusat 10110
Tel: +62 (21) 385 5653, Fax: +62 (21) 385 3040
dapurbabah@tuguhotels.com
www.tuguhotels.com

       
       
     
Back to top